Langsung ke konten utama

Postingan

Daftar Seluruh Koleksi Museum Bikon Blewut

    NO    JENIS–JENIS KOLEKSI         JUMLAH            KATEGORI        1.    Fosil – Fosil Manusia Purba Flores @ tulang manusia Proto Negrito Flores @ tengkorak manusia Proto Negrito Flores 298 item     3 item penemuan penemuan     2.    Fauna Gua Flores bertingkat Subfosil @ fosil – fosil binatang laut @ fosil-fosil binatang daratan @ fosil taring binatang laut @ fosil tulang rahang tikus raksasa @ fosil gigi ikan hiu 11 item 77 item   7 item   3 item   1 item penemuan penemuan penemuan penemuan penemuan     3.    Fauna Daratan Flores bertingkat Fosil @ fosil geraham Gajah Stegodon Flores @ Fosil Gading Gajah Stegodon Flores @ fosil bagian–bagian tulang Gajah Stegodon @ fosil kupu–kupu hutan liar @ fosil tanduk kambing hutan @ fosil ular phyton @ fosil taring ikan duyun @ fosil biawak besar @ fosil burung Cendrawa
Postingan terbaru

Napak Tilas Berdirinya Museum Bikon-Blewut

  Dr. Theodor Lambertus Verhoeven, SVD [1] : Mastermind Penemuan Kebudayaan Purba Flores   P.  Verhoeven , SVD dalam salah satu kegiatan penggaliannya di Liang Bua Theodor Lambertus Verhoeven lahir di Uden, Belanda, pada tanggal 17 September 1907 dari rahim Ibu yang bernama Johana Maria Vogels dan Ayah yang bernama Petrus Verhoeven. Verhoeven belajar Sejarah Bahasa – Bahasa Klasik dan Arkeologi di Universitas Utrecht, Belanda. Ketika belajar di Universitas Utrecht itu dia terlibat dalam tim ekskavasi ke Italia selama beberapa bulan untuk menggali bekas kota Pompeii dan Herculanum yang terkubur oleh abu vulkanik letusan Gunung Vesuvius. Pada tahun 1948, Verhoeven memperoleh gelar Doktor Etno-linguistik di bawah bimbingan Prof. Hendrik Wagenwoort. Pada tahun 1949, Verhoeven SVD dan beberapa temannya dikirim oleh Kongregasinya SVD menjadi misionaris di Flores, Indonesia, dimana dia menjadi guru di Seminari Menengah Mataloko, Kabupaten Ngada, dan melakukan ekskavasi (penggalian) gua –

Misteri Manusia Purba Flores (Homo Floresiensis)

    Kerangka Manusia Purba Flores S eorang pastor Katolik asal Belanda, Theodor Verhoeven, SVD, yang mengajar di Seminari Menengah Mataloko (1949-1966), Kabupaten Ngada, telah melakukan penelitian lapangan dan ekskavasi (penggalian) beberapa lapisan tanah berbatu di hampir seluruh daratan Flores (dari Flores Timur hingga Flores Barat). Bersama tim ekspedisinya, Theodor Verhoeven menemukan fosil gajah purba jenis Stegodon pada tahun 1956 di Ola Bula, Mata Menge, Kabupaten Ngada, yang berusia 400.000 tahun. Hasil penemuannya ini mematahkan Teori Wallace Line, yang mengatakan bahwa daratan Indonesia Timur, termasuk Flores, tidak pernah bergabung dengan pulau-pulau lain di Indonesia Barat pada zaman glacial atau zaman es yang terjadi sekitar 19.000 tahun yang lampau. Menurut Verhoeven, pada zaman glacial terjadi penurunan air laut akibat meluasnya wilayah yang tertutup es di Kutub Utara dan Kutub Selatan, sehingga terjadi proses migrasi manusia dan fauna secara dua arah, baik dari wi

Kategori Hasil - Hasil Penemuan/ Penggalian Fosil dan Artefak Budaya Purba Flores

Hasil penggalian fosil dan artefak budaya Flores dikategorikan dalam beberapa kelompok sebagai berikut: Artefak Kebudayaan Neolithicum (Zaman Batu Muda) Flores Sejak tahun 1950, Dr. Verhoeven berhasil mengumpulkan 150 buah kapak dan beberapa alat neolithis yang lain. Alat- alat kebudayaan neolithis ini diperoleh dari tangan penduduk lokal di Flores dan juga ditemukan pada bekas-bekas kampung lama. Kapak-kapak tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa tipe: (a) Kapak persegi-panjang (tipe Jawa), (b) Kapak lonjong (tipe Papua), (c) Kapak berpunggung atas atau dakvorming (tipe Seram), (d) Kapak berbentuk campuran. Tipe kapak yang paling banyak ditemukan adalah kapak persegi-panjang (tipe Jawa), walaupun ada juga sejumlah kecil kapak lonjong (tipe Papua). Kapak-kapak tipe Jawa dan Papua ini ditemukan di wilayah Timur pulau Flores. Hal ini menunjukkan bahwa “pulau Flores berada di daerah pertemuan unsur-unsur Barat dan Timur dari era Neolithicum Indonesia.” Dan berhubung hingga saat ini

Sekapur Sirih

 Oleh P. Frans Ceunfin SVD (Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero) P. Frans Ceunfin, SVD (Rektor) Museum Bikon Blewut  ini sungguh – sungguh milik Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan didirikan melalui Surat Keputusan Rektor No. 012/SK/LED/VII/83 tertanggal 05 Juli 1983. Segala kekayaan nilai budaya dan sejarah serta ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi–koleksi museum ini merupakan hasil karya akademis dan ekskavasi arkeologis dari para misionaris SVD perdana asal Belanda (Dr. Verhoeven SVD dkk.) dan para Imam SVD pemerhati budaya dan sejarah serta ilmu hingga saat ini. Berhubung  museum  ini  berisikan  koleksi–koleksi yang mengandung kekayaan nilai budaya dan sejarah serta ilmu pengetahuan, maka hingga akhir tahun 2017 museum Bikon Blewut telah menyedot jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 50.316 orang, baik wisatawan domestik (32.115) maupun  wisatawan  mancanegara  (18.201).  Yang  menarik ialah bahwa ternyata museum ini telah menjadi sumber pembelajaran bagi pa

Kata Pengantar

 P. Ansel Doredae, SVD Kepala Museum Museum Bikon  Blewut  adalah  salah  satu  museum non-pemerintah  atau  Museum  Swasta,  yang  merupakan milik dari dan dikelola oleh Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, di antara ratusan Museum Negeri yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi di seluruh Indonesia. Menurut ICOM (International Council Of   Museum), museum is a non – profit making permanent institution in the service of society and of   its development, open to the public, which aquires conserves, researches, and exhibits, for the purpose of  study and enjoyment (No. 52). Sebagai sebuah lembaga non – profit, museum Bikon Blewut memiliki visi dan misi, manajemen pengelolaan koleksi – koleksi, serta peran dan fungsi sosial yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Setelah didirikan pada tahun 1983 oleh almarhum Pater Piet Petu, SVD (Sareng Orinbao), Museum Bikon Blewut sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sikka sebagai Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) melalui Surat Keputusan Bupa

Biografi Pendiri Museum

P. Piet Petu, SVD (Sareng Oring Bao) Pendidikan dan Pengabdian Lahir di Nita, Kabupaten Sikka (Flores), pada tanggal 03 Februari 1919 dengan menyandang nama Marga Sareng Orinbao . Sekolah Rakyat (SR) di Alok/Maumere (1929 –1931), Standaarschool di Lela, Kabupaten Sikka (1932 –1935), Seminari Menengah di Mataloko, Kabupaten Ngada – Flores (1936–1942), Novisiat SVD di Ledalero, Kabupaten Sikka (1943–1944), Studi Filsafat dan Teologi di Ledalero (1945–1951), Studi Sejarah di Jakarta (1952–1954) hingga mendapat gelar B1 Sejarah, Kursus Spiritualitas di Nemi, Roma (1961–1962) dimana beliau menulis draft buku Nusa Nipa atas permintaan Konggregasi, Studi Bahasa Jerman di Munchen, Jerman (1962–1963). Kaul  Pertama  dalam  SVD  diikrarkan  di  Mataloko pada tahun 1944 setelah diusir dari Ledalero oleh Jepang selama masa Perang Dunia II; ditahbiskan menjadi IMAM di Gereja Paroki St. Mikhael Nita pada tahun 1951; Guru di Seminari  San  Dominggo  Hokeng,  Flores  Timur  (1951 –1952);